Engkong Mengubah Saya.

Kita berpikir kalau Indonesia itu hancur lebur. Generasi muda menyedihkan, budaya ga keurus, pemerintahan berantakan, dan semua yang jelek-jelek. Sayangnya, kita, anak muda, seringkali hanya memikirkan masalah-masalahnya aja. Kalau ditanya solusinya? Mungkin dari seratus yang ditanya, tidak sampai separonya bisa memberi solusi. Yang keluar dari mulut cuma dumelan, keluhan, atau yang paling parah,


"Itu kan urusan pemerintah. Mereka dong yang harus cari solusi"


atau intinya, mereka ngga peduli sama solusinya. Yang penting itu harus dihentikan, diubah, ga peduli gimana caranya. Dan waktu melihat kalau pemerintah nggak mampu (atau mungkin belum) ngatasin masalah itu, atau usaha pemerintah kurang efektif, mereka yang tadi nggak bisa ngasih solusi itu yang akan protes duluan. Segala kritik, sampai caci maki bisa keluar.


Ironis, bukan.


Saya akui, saya juga bukanlah orang yang seratus persen concerned sama setiap isu-isu negara, dari tentang politik, kaya DPR, korupsi, RUU, Otonomi Daerah, krisis ekonomi, dll. Baca koran aja mood-mood an. Kalau tertarik sama headline nya, baru deh baca sampai habis. Apalagi kalau nggak ngerti apa inti dari isunya. Kalau udah begini, biasanya saya nanya sama engkong saya.

Engkong saya umurnya 77 tahun. Tapi, beda sama engkong-engkong diluar sana yang mungkin umur segini udah nggak kuat ngapa-ngapain, engkong saya adalah orang yang cukup up-to-date. Karna udah nggak kerja, jadi kerjaannya setiap hari itu baca koran, nonton berita (dari berita olahraga, dunia, nasional, sampai infotainment juga engkong saya nonton), baca novel-novel (Jengis Khan, Godfather, Agatha Christie, dll), belanja di pasar, kadang juga jemput adek saya ke sekolah.

Nah, engkong saya ini yang selalu saya tanyain kalo ada isu-isu yang saya nggak ngerti, ketinggalan, atau saya nggak tertarik untuk baca di koran. He can answer every questions that I give. Dia juga suka nasehatin saya,


"Kamu harus rajin baca koran, gi. Biar tau, apa yang lagi terjadi di luar sana."


Hari ini, detik ini juga, saya jadi mikirin kata-katanya itu. Mungkin, kalo nggak ada engkong, saya bisa jadi katak dalam tempurung. Terisolasi dari dunia luar, cuma bisa "menangisi" nasib Indonesia yang diambang jurang, nggak ngerti apa yang harus dilakuin. Kalo nggak ada engkong, saya bisa jadi adalah salah satu dari lebih dari separo orang yang akan menjawab seperti yang di atas itu , waktu ditanya soal solusi.



Nah, setelah diingetin sama engkong saya itu, saya mau mem"forward" peringatan engkong saya ke kamu-kamu.


Gimana kita bisa ubah Indonesia yang katanya menyedihkan itu kalo kita aja nggak tau apa yang terjadi di sekitar kita.
Gimana masa depan negara kita bisa cerah, kalo kita nggak peduli sama keadaan sekarang ini.

Kalian juga tau kan, apa kata orang-orang dewasa soal generasi muda. Kita dibilang penghancur masa depan lah, menyedihkan lah, dan lalala yang jelek-jelek itu. Gimana kita bisa ngebuktiin kalo kata-kata mereka itu salah, kalo kita-nya nggak berusaha apa-apa?



Kita bisa mulai dengan satu langkah pertama yang simple dan mudah : Baca Koran.



"You really can change the world if you care enough." Marian Wright Edelman

-----------------------------------------------------------------------------


Ini dia Engkong &saya, waktu si engkong ulang tahun ke 77, 05/05/2009
Engkong saya selalu mikir kalo dia mirip Brad Pitt. Hahaha, may God bless him ;)

0 comments: